Banjarbaru kemenag BJB — Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur`an (LPTQ) Kota Banjarbaru menegaskan bahwa prestasi Musabaqah Tilawatil Qur`an (MTQ) tidak lahir secara instan. Hal tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi pengurus LPTQ tingkat kota bersama perwakilan LPTQ kecamatan yang digelar di Pondok Pesantren Raudhatun Nasyi`in, Selasa (10/2/2026).
Rakor tersebut membahas strategi besar LPTQ Banjarbaru dalam menyiapkan kader-kader qori dan qoriah melalui proses pencarian bibit unggul dan pembinaan berkelanjutan sebagai pekerjaan rumah utama menyongsong MTQ Nasional ke-XXI Tingkat Kota Banjarbaru yang direncanakan berlangsung pada Oktober 2026. Ketua LPTQ Kota Banjarbaru, ustadz H. Hendri Atmadja, dalam paparannya menekankan pentingnya pemetaan potensi secara sistematis di lima kecamatan. Menurutnya, setiap kecamatan memiliki kekhasan dan sumber daya Qurani yang perlu dipetakan sejak dini agar pembinaan dapat berjalan terarah dan berkesinambungan. “MTQ bukan sekadar soal tampil di panggung lomba, tetapi tentang bagaimana kita menyiapkan prosesnya. Karena itu, LPTQ berkomitmen memulai dari hulu, yakni pemetaan potensi qori, qoriah, hafiz, dan hafizah di setiap kecamatan,” ujar Hendri.
Ia menjelaskan, penjaringan akan dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari TPA/TPQ, majelis taklim, lembaga pendidikan keagamaan, hingga pondok pesantren. Proses ini, lanjut Hendri, tidak hanya bertujuan menjaring peserta lomba, tetapi juga membangun ekosistem pembinaan yang berkelanjutan di tingkat kafilah kecamatan. “Pembinaan tidak bisa instan. Kita ingin memastikan setiap kader yang dibina benar-benar tumbuh melalui proses yang terukur, mulai dari dasar teknik, pemahaman makna, hingga mental bertanding. Semua cabang MTQ harus mendapatkan perhatian yang proporsional, itu PR kita” tegasnya.
Rakor ini juga dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjarbaru, H. Mukhlis Ridhani, yang memberikan penguatan sekaligus harapan besar terhadap peran strategis LPTQ. Menurutnya, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru perlu memiliki target yang jelas dalam mencetak generasi Qurani yang mampu bersaing di tingkat provinsi hingga nasional. “Banjarbaru harus punya visi jangka panjang. Target kita bukan hanya MTQ tingkat kota, tetapi menyiapkan generasi yang kelak mampu menjadi wakil Kalimantan Selatan di tingkat nasional,” ungkap Mukhlis.
Ia menilai, keberadaan pondok pesantren di Kota Banjarbaru merupakan aset besar yang harus dioptimalkan dalam proses penjaringan dan pembinaan. Santri dengan basis keilmuan Al-Qur`an yang kuat dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi qori dan qoriah unggulan. “Pondok pesantren adalah keunggulan Banjarbaru. Di sanalah banyak bibit unggul yang harus kita rangkul. Tentu dengan harapan besar, kontingen LPTQ ke depan benar-benar berasal dari putra-putri daerah Banjarbaru,” tambahnya.
Mukhlis juga menegaskan pentingnya sinergi antara LPTQ, Kementerian Agama, pemerintah daerah, serta lembaga pendidikan keagamaan agar pembinaan berjalan konsisten dan berkesinambungan. Sebelumnya, Ketua LPTQ Kota Banjarbaru juga menyampaikan optimisme bahwa dengan pendekatan pembinaan yang terencana dan berbasis potensi lokal, Banjarbaru memiliki peluang besar melahirkan qori dan qoriah berkualitas yang mampu mengharumkan nama daerah. “Jika prosesnya kita jaga dengan baik, insya Allah hasilnya akan mengikuti. MTQ XXI nanti adalah momentum evaluasi sekaligus pembuktian bahwa Banjarbaru serius membangun prestasi Qurani,” kata Hendri.
Sebagai penutup, Ketua LPTQ Kota Banjarbaru dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjarbaru sepakat bahwa kunci keberhasilan MTQ terletak pada kolaborasi, kesabaran dalam proses, dan komitmen menjaga kualitas pembinaan. “Mencari bibit adalah langkah awal, menjaga proses adalah kunci, dan prestasi adalah buah dari kesungguhan bersama,” pungkas keduanya. Diy
Pewarta: Mardian
Foto: Alfin
Pewarta: Mardian
Foto: Alfin








